Sekilas Sabang

Sekilas Sabang

Jangan lupa untuk kunjungi objek wisata berikut selagi Anda berlibur di Sabang!

  • Keterangan Saat Anda berwisata ke Pulau Weh di ujung barat Nsantara maka selain menikmati puau tropis dan pantainya yang indah juga yamg lain dari itu adalah menikmati air terjun lebatnya hutan Kota Sabang. Sambangi Air Terjun Pria Laot yang berlokasi di Desa Pria Laot, Kelurahan Iboih, Sukakarya. Jaraknya sekira 12 kilometer dari pusat Kota Sabang. Air Terjun Pria Laot memiliki tebing bertingkat-tingkat dengan tinggi sekira 15 meter. Airnya berhulu dari Sungai Pria Laot yang mengalir dari Danau Aneuklaot dan berhulu di Gunung Sarung Keris, Jaboi. Bagi banyak petualang dan atau mereka backpacker dari berbagai negara, Air Terjun Pria Laot wajib masuk dalam daftar persinggahan saat menjelajahi Pulau Weh. Biasanya mereka akan menikmati air terjun ini berlama-lama dengan berenang atau bermain
  • Keterangan Kata-kata ‘dari Sabang sampai Merauke’ dipopularkan Presiden Soekarno yang berasal dari ucapan seorang perwira Belanda bernama Jendral J.B. van Heutsz saat mengklaim kemenangannya dalam Perang Aceh tahun 1904 dengan slogannya “Vom Sabang tot Merauke”. Keduanya adalah kota di ujung paling barat dan paling timur Hindia Belanda. Tugu Nol Kilometer RI atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol merupakan sebuah penanda geografis yang unik di Indonesia. Hal ini berkaitan perannya sebagai simbol perekat Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Tugu ini bukan saja menjadi penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi objek wisata sejarah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan
  • Tugu Nol Kilometer RI atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol merupakan sebuah penanda geografis yang unik. Hal ini berkaitan sebagai simbol perekat Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Tugu ini bukan saja menjadi penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi objek wisata sejarah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Datanglah ke ujung barat Indonesia ini untuk menapakkan kaki Anda di atas titik kilometer nol yang terbuat dari semen berbentuk lingkaran berdiameter 50 centimeter. Berdirilah di atasnya lalu abadikan fakta historis yang sifatnya pribadi itu. Pemandangan dari atas tugu ini sungguh sangat menawan dimana membentang laut biru yang seakan tak terbatas. Dengan menyambangi tempat ini Anda pun bisa mendapat sertifikat dari agen penjalanan resmi mana pun

Lokasi Lainnya

Sekitar Aceh

Temukan juga keseruan mengunjungi obyek-obyek di luar kota Sabang!

  • Inilah satu lagi seni budaya Aceh yang komunikatif dibalut nilai-nilai religius Islam. Bukan hanya keindahan pesan moral dan ruhani yang dapat Anda resapi tetapi juga keindahan dan nilai kebersamaan dari tampilan atraksinya. Didong memiliki makna ‘dendang’ tetapi dalam kesenian Aceh kata didong juga merangkum beberapa jenis kesenian masyarakat Gayo lainnya seperti seni sastra lisan, seni tari dan seni teater. Kesenian tradisional didong sangat populer dan diminati masyarakat Gayo dimana mereka akan setia menyaksikannya di hampir setiap malam minggu dari Isya hingga Subuh. Didong biasanya dipertontonkan lelaki (ceh) secara berkelompok yang berjumlah sekitar 15 hingga 30 orang meliputi 4 sampai 5 orang adalah ceh dan sisanya adalah penunung. Mereka akan berekspresi dengan bebas sambil duduk bersila atau berdiri mengentak-entakkan kakinya. Para
  • Masih ingatkah Anda catatan sejarah tentang sumbangan masyarakat Aceh untuk perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia? Saat itu masyarakat Aceh menyumbangkan emas kepada pemerintah RI  untuk membeli pesawat tahun 1948. Sebagian emasnya masih dapat Anda lihat kini pada tugu Monas (Monumen Nasional). Hal ini bukan satu-satunya bukti kedermawanan rakyat Aceh. 200 tahun lebih sebelumnya, masyarakat Aceh telah mempraktekan salah satu ajaran Islam yaitu, ‘tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah’. Abad ke-17 Masehi (1672) dikabarkan Syarif Barakat penguasa Mekkah  saat itu tengah berbenah diri membangun kota Mekkah  terutama masjid-masjid yang memiliki nilai sejarah Islam. Syarif Barakat berupaya mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram mengingat kondisi Arab pada saat itu kekuarangan dana. Masjid Al-Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah
  • Sebuah benteng peninggalan kerajaan Hindu pertama di Aceh masih dapat Anda lihat hingga saat ini dekat pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini berada di Teluk Krueng Raya dan berhadapan dengan Benteng Inong Balee yang berada di kawasan perbukitan di seberangnya. Uniknya untuk mencapai bagian dalam benteng ini maka Anda perlu memanjat terlebih dahulu atau dengan tangga yang telah disediakan. Benteng Indra Patra merupakan bagian dari 3 benteng dalam Trail Aceh lhee Sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe adalah wilayah yang menghubungkan tiga peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh. Jika ketiganya dihubungkan (Indrapatra, Indrapuri dan Indrapurwa) maka akan membentuk sebuah segitiga dan disebut juga Trail Aceh lhee Sagoe. Benteng Indra Patra dibangun pada abad ke-7 Masehi

Lokasi Lainnya